Pada pembelajaran berbantuan
multimedia informasi disajikan
dalam berbagai bentuk seperti teks, audio, video, grafik, dan animasi. Oleh
karena itu, siswa dapat memadukan berbagai informasi dari tampilan, lisan, dan
tulisan. Dengan menggunakan multimedia, kita dapat membuat pembelajaran menjadi
lebih menarik sehingga siswa tidak merasa bosan untuk belajar. Proses pembelajaran
yang efektif terletak pada optimalisasi cognitive load dalam kapasitas memori
kerja siswa yang terbatas. Oleh karena itu, dalam mendesain pembelajaran perlu
mempertimbangkan faktor tersebut. Teori yang
membicarakan cognitive
load disebut
Cognitive Load Theory.
Sweller mengungkapkan, “Cognitive Load Theory (CLT) began as
instructional theory based on our knowledge of human cognitive architecture
(Plass dkk, 2010:29). Menurut Cognitive Load Theory berkaitan dengan dua bidang
yaitu, struktur memori manusia (arsitektur kognitif) dan cara pemrosesan
informasi
(Cognitive
Load).
Teori pemrosesan informasi bermula
dari asumsi bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam
perkembangan. Perkembangan salah satu hasil kumulatif dari pembelajaran.
Menurut teori ini, belajar merupakan proses mengelola informasi, namun teori
ini menganggap sisitem informasi yang diproses yang nantinya akan dipelajari
siswa adalah yang lebih penting. Karena informasi inilah yang akan menentukan
proses dan bagaimana proses belajar akan berlangsung akan sangat oleh sistem
informasi yang dipelajari.
Pemrosesan informasi itu sendiri
secara sederhana dapat diartikan suatu proses yang terjadi pada peserta didik
untuk mengolah informasi, memonitornya, dan menyusun strategi berkenaan dengan
informasi tersebut dengan inti pendekatannya lebih kepada proses memori dan
cara berpikir. Dalam teori pemrosesan informasi, terdapat beberapa model
mengajar yang akan mendorong pengembangan pengetahuan dalam diri siswa dalam
hal mengendalikan stimulus yaitu mengumpulkan dan mengorganisasikan data,
menyadari dan memecahkan masalah, mengembangkan konsep sehingga mampu
menggunakan lambang verbal dan non verbal dalam penyampaiannya. Bahkan
orientasi utama pada modelnya mengarah kepada kemampuan siswa dalam
mengolah, menguasai informasi sehingga dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan
yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang akan didapatkannya.
Model belajar
pemrosesan informasi ini sering pula
disebut model kognitif information processing, karena
dalam proses belajar ini tersedia tiga taraf struktural
sistem informasi, yaitu:
1) Sensory
atau Sensory Receptor (SR) merupakan sel tempat pertama kali
informasi diterima dari luar. informasi masuk ke sistem
melalui sensory register Di dalam SR informasi ditangkap dalam bentuk
aslinya, informasi hanya dapat bertahan dalam waktu yang sangat singkat, dan
informasi tadi mudah terganggu dengan kata lain sangat mudah berganti.
Agar tetap berada dalam sistem, informasi masuk
ke working memory yang digabungkan dengan informasi di
long-term memory. informasi masuk ke sistem
melalui sensory register, tetapi hanya disimpan
untuk periode waktu terbatas. Agar tetap
dalam sistem, informasi masuk ke working
memory yang digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2) Working
memory: Pengerjaan atau operasi informasi berlangsung di working
memory. Disini, berlangsung proses berpikir secara sadar. Working
Memory (WM) diasumsikan mampu menangkap informasi yang diberi
perhatian (attention) oleh individu. Pemberian perhatian ini dipengaruhi oleh
peran persepsi. Karakteristik WM adalah bahwa; 1) ia memiliki kapasitas yang
terbatas, lebih kurang 7 slots. Informasi di dalamnya hanya mampu bertahan
kurang lebih 15 detik apabila tanpa upaya pengulangan atau rehearsal.
2) informasi dapat disandi dalam bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya.
Asumsi pertama berkaitan dengan penataan jumlah informasi, sedangkan asumsi
kedua berkaitan dengan peran proses kontrol. Artinya, agar informasi dapat
bertahan dalam WM, maka upayakan jumlah informasi tidak melebihi kapasitas WM
disamping melakukan rehearsal. Sedangkan penyandian pada tahapan
WM, dalam bentuk verbal, visual, ataupun semantik, dipengaruhi oleh peran
proses kontrol dan seseorang dapat dengan sadar mengendalikannya. Kelemahan
working memory sangat terbatas kapasitas isinya
dan memperhatikan sejumlah kecil informasi secara serempak.
3) Long-term
memory, Long Term Memory (LTM) diasumsikan;
a) berisi semua
pengetahuan yang telah dimiliki oleh individu,
b) mempunyai
kapasitas tidak terbatas, dan
c) bahwa sekali
informasi disimpan di dalam LTM ia tidak akan pernah terhapus atau hilang.
Dengan ungkapan lain, Tennyson
(1989) mengemukakan bahwa proses penyimpanan informasi merupakan proses
mengasimilasikan pengetahuan baru pada pengetahuan yang telah dimiliki, yang
selanjutnya berfungsi sebagai dasar pengetahuan (knowledge base). yang
secara potensial tidak terbatas kapasitas isinya
sehingga mampu menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki peserta
didik. Kelemahannya adalah betapa sulit
mengakses informasi yang tersimpan di dalamnya.
Dalam mengartikan penyampaian informasi
dengan multimedia perlu dibedakan apa yang disebut dengan media pengantar,
desain pesan, serta kemampuan sensorik. Media pengantar mengacu pada
sistem yang dipakai untuk menyajikan informasi, misalnya media berbasiskan
media cetakan atau media berbasiskan komputer. Desain pesan mengacu pada bentuk
yang digunakan untuk menyajikan informasi, misalnya pemakaian animasi
atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu pada jalur pemrosesan informasi
yang dipakai untuk memproses informasi yang diperoleh, seperti proses
penerimaan informasi visual atau auditorial.
Berdasarkan
temuan riset linguistik, psikologi, antropologi
dan ilmu komputer, dikembangkan model
berpikir. Pusat kajiannya pada proses
belajar dan menggambarkan cara individu
memanipulasi simbol dan memproses informasi. Diasumsikan, ketika
individu belajar, di dalam dirinya
berlangsung proses kendali atau pemantau bekerjanya sistem
yang berupa prosedur strategi mengingat, untuk menyimpan
informasi ke dalam long-term memory
(materi memory atau ingatan) dan strategi umum pemecahan masalah
(materi kreativitas).
Dalam upaya menjelaskan bagaimana
suatu informasi (pesan pengajaran) diterima, disandi, disimpan dan dimunculkan
kembali dari ingatan serta dimanfaatkan jika diperlukan, telah dikembangkan
sejumlah teori dan model pemrosesan informasi oleh para pakar seperti Biehler
dan Snowman (1986); Baine (1986); dan Tennyson (1989). Teori-teori tersebut
umumnya berpijak pada tiga asumsi (Lusiana, 1992) yaitu:
a. Bahwa
antara stimulus dan respon terdapat suatu seri tahapan pemrosesan informasi
dimana pada masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu.
b. Stimulus
yang diproses melalui tahapan-tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk ataupun
isinya.
c. Salah
satu dari tahapan mempunyai kapasitas yang terbatas.
Dari
ketiga asumsi tersebut,dikembangkan teori tentang komponen struktur dan
pengatur alur pemrosesan informasi (proses control).
A.
Teori
Pemrosesan Informasi dalam Pembelajaran menurut Robert Mills Gagne
Berdasarkan kondisi internal dan
eksternal , Gagne menjelaskan bagaimana proses belajar itu terjadi. Model
proses belajar yang dikembangkan oleh Gagne didasarkan pada teori pemrosesan
informasi, yaitu sebagai berikut :
1. Rangsangan
yang diterima panca indera akan disalurkan ke pusat syaraf dan diproses sebagai
informasi.
2. Informasi
dipilih secara selektif, ada yang dibuang, ada yang disimpan dalam memori
jangka pendek, dan ada yang disimpan dalam memori jangka panjang.
3. Memori-memori
ini tercampur dengan memori yang telah ada sebelumnya, dan dapat diungkap
kembali setelah dilakukan pengolahan.
Asumsi yang
mendasari teori-teori pemrosesan informasi menjelaskan tentang (1) hakekat
sistem memori manusia, dan (2) cara bagaimana pengetahuan digambarkan dan
disimpan dalam memori. Konsepsi lama mengenai memori manusia adalah bahwa
memori itu semata-mata hanya tempat penyimpanan untuk menyimpan informasi dalam
waktu yang lama, sehingga memori diartikan sebagai koleksi potongan-potongan
kecil informasi yang terlepas-lepas atau saling tidak ada kaitannya.
Menurut Gagne tahapan proses
pembelajaran meliputi delapan fase yaitu,
(1) motivasi;
(2) pemahaman;
(3) pemerolehan;
(4) penyimpanan;
(5) ingatan kembali;
(6) generalisasi;
(7) perlakuan;
(8) umpan balik.
B.
Teori
Pemrosesan Informasi dalam Pembelajaran menurut Atkinson
Atkinson dan Shiffin dalam Levitin
(2002:296) menyatakan bahwa memori manusia terdiri dari tiga jenis, yaitu
sensori memori (sensory register) yang menerima informasi melalui indra
penerima seperti mata, telinga, hidung, mulut, dan atau tangan, setelah
beberapa detik informasi tersebut akan hilang atau diteruskan pada ingatan
jangka pendek (short term memory atauworking memory).
Informasi tersebut setelah 5 – 20 detik akan hilang atau tersimpan ke dalam
ingatan jangka panjang (long term memory).
Dalam model pemrosesan informasi
yang dikembangkan oleh Atkinson & Shiffrin, kognisi manusia dikonsepkan
sebagai suatu labor yang terdiri dari tiga bagian, yaitu masukan (input),
proses dan keluaran (output). Informasi dari dunia sekitar merupakan masukan
bagi labor. Stimulasi dari dunia sekitar ini memasuki reseptor memori dalam
bentuk penglihatan, suara, rasa, dan sebagainya. Selanjutnya, input diproses
dalam otak. Otak mengolah dan mentransformasikan informasi dalam berbagai cara.
Proses ini meliputi pengkodean ke dalam bentuk-bentuk simbolis, membandingkan
dengan informasi yang telah diketahui sebelumnya, menyimpan dalam memori, dan
mengambilnya bila diperlukan. Akhir dari proses ini adalah keluaran, yaitu
perilaku manusia, seperti berbicara, menulis, interaksi labor, dan sebagainya.
Teori pemrosesan informasi berpijak
pada tiga asumsi sebagaimana dikemukakan Lusiana dalam Budiningsih (2005:82)
bahwa:
(a) antara stimulus
dan respon terdapat suatu seri pemrosesan informasi di mana pada masing-masing
tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu,
(b) stimulus yang
diproses melalui tahapan tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk atau
isinya, dan
(c)
salah satu dari tahap memiliki keterbatasan kapasitas.
Implikasi dari teori pemrosesan
informasi yang memandang belajar adalah pengkodean informasi ke dalam memori
manusia seperti layaknya sebuah cara kerja komputer dan karena memori memiliki
keterbatasan kapasitas, pembelajaran harus dapat untuk menarik perhatian siswa
dan menyediakan aplikasi berulang dan praktik secara individual agar informasi
yang diberikan mudah dicerna dan dapat bertahan lama dalam memori siswa, dan
aplikasi komputer memiliki semuanya dengan kualitas yang sangat baik.
Dalam pemilihan dan penggunaan
multimedia dalam proses pembelajaran perlu memperhatikan karakteristik komponen
lain, seperti: tujuan, materi, strategi, dan juga evaluasi pembelajaran.
Karakteristik multimedia adalah:
1.
Memiliki lebih
dari satu media
yang konvergen, misalnya menggabungkan unsur teks dan
visual.
2.
Bersifat interaktif, yaitu memiliki
kemampuan untuk mengakomodasikan respon pengguna.
3.
Bersifat mandiri, dalam pengertian
member kemudahan dan kelengkapan isi sehingga pengguna bias menggunakan tanpa
bimbingan dari orang lain.
Multimedia dalam proses pembelajaran
dapat digunakan dalam tiga fungsi, yaitu
(1) multimedia dapat
berfungsi sebagai alat
bantu instruksional,
(2)
multimedia dapat berfungsi
sebagai tutorial interaktif,
(3) multimedia
dapat berfungsi sebagai sumber petunjuk belajar.
Kemudian lima langkah dalam teori kognitif
tentang multimedia learning:
a) Memilih kata-kata yang relevan
b) Memilih gambar-gambar yang relevan
c) Menata kata-kata yang terpilih
d) Menata gambar-gambar yang terpilih
e) Memadukan representasi berbasis-kata dan
representasi berbasis-gambar.
Manfaat yang dapat diperoleh dari
pembelajaran berbantuan multimedia adalah
proses pembelajaran lebih
menarik, lebih interaktif,
jumlah waktu mengajar dapat
dikurangi, kualitas belajar dapat ditingkatkan, dan sikap belajar siswa dapat
ditingkatkan. Sedangkan keunggulan
pembelajaran berbantuan multimedia
adalah sebagai berikut.
a. Memperbesar benda yang sangat kecil dan tidak
tampak oleh mata, seperti kuman, bakteri, elektron, dan lain-lain.
b. Memperkecil benda yang sangat besar, yang
tidak mungkin dihadirkan di sekolah, seperti gajah, rumah, gunung dan
lain-lain.
c. Menyajikan benda atau peristiwa yang
kompleks, rumit dan berlangsung cepat atau lambat, seperti sistem tubuh
manusia, bekerjanya suatu mesin, beredarnya planet Mars, berkembangnya bunga
dan lain-lain.
d. Meningkatkan daya tarik dan perhatian siswa.
Penerapan teori yang salah dalam
situasi pembelajaran mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat
tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai sentral bersikap otoriter,
komunikasi berlangsung dalam satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang
harus dipelajari murid. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari para tokoh
behavioristik dianggap metode paling efektif untuk menertibkan siswa.
apakah pada prinsipnya teori informasi berbantuan media ini akan lebih baik dari hanya mempelajari teorinya saja?
BalasHapustentu saja , karena mplikasi dari teori pemrosesan informasi yang memandang belajar adalah pengkodean informasi ke dalam memori manusia seperti layaknya sebuah cara kerja komputer dan karena memori memiliki keterbatasan kapasitas, pembelajaran harus dapat untuk menarik perhatian siswa dan menyediakan aplikasi berulang dan praktik secara individual agar informasi yang diberikan mudah dicerna dan dapat bertahan lama dalam memori siswa, dan aplikasi komputer memiliki semuanya dengan kualitas yang sangat baik.
Hapusapa pengaruh teori atkinson yang paling besar bagi teori pemrosesan informasi ?
BalasHapusteori pemrosesan informasi , Dalam model pemrosesan informasi yang dikembangkan oleh Atkinson & Shiffrin, kognisi manusia dikonsepkan sebagai suatu labor yang terdiri dari tiga bagian, yaitu masukan (input), proses dan keluaran (output). Informasi dari dunia sekitar merupakan masukan bagi labor. Stimulasi dari dunia sekitar ini memasuki reseptor memori dalam bentuk penglihatan, suara, rasa, dan sebagainya. Selanjutnya, input diproses dalam otak. Otak mengolah dan mentransformasikan informasi dalam berbagai cara. Proses ini meliputi pengkodean ke dalam bentuk-bentuk simbolis, membandingkan dengan informasi yang telah diketahui sebelumnya, menyimpan dalam memori, dan mengambilnya bila diperlukan. Akhir dari proses ini adalah keluaran, yaitu perilaku manusia, seperti berbicara, menulis, interaksi labor, dan sebagainya.
Hapusbagaimanakah caranya agar informasi yang telas tersimpan pada memori jangka pendek tidak cepat hilang? jelaska!
BalasHapusAktifkan otak. Seperti bagian tubuh lainnya, fungsi otak yang tidak aktif dapat melemah dan menurun. Otak yang aktif adalah otak yang sehat, dan otak yang sehat memiliki ingatan jangka pendek yang lebih baik.
HapusBerinteraksilah dengan orang lain. Mengobrol dengan seseorang sudah dapat mengaktifkan otak. Latihan yang lebih baik adalah bermain catur, menyelesaikan teka-teki dengan teman, atau apa saja yang menantang otak untuk bekerja lebih keras.[4]
Jangan lupa merangsang otak saat sendirian. Jangan hanya duduk di depan TV. Baca buku, atau lebih baik lagi, tulis buku.
Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak. Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.
BalasHapusKomponen pertama dari sistem memori yang dijumpai oleh informasi yang masuk adalah registrasi penginderaan. Registrasi penginderaan menerima sejumlah besar informasi dari indera dan menyimpannya dalam waktu yang sangat singkat, tidak lebih dari dua detik. Bila tidak terjadi suatu proses terhadap informasi yang disimpan dalam register penginderaan, maka dengan cepat informasi itu akan hilang.nformasi yang dipersepsi seseorang dan mendapat perhatian, akan ditransfer ke komponen kedua dari sistem memori, yaitu memori jangka pendek. Memori jangka pendek adalah sistem penyimpanan informasi dalam jumlah terbatas hanya dalam beberapa detik. Satu cara untuk menyimpan informasi dalam memori jangka pendek adalah memikirkan tentang informasi itu atau mengungkapkannya berkali-kali. Guru mengalokasikan waktu untuk pengulangan selama mengajar.
assalamualaikum saya ingin menambahkan materi blog saudara bahwasanya Pemrosesan informasi itu sendiri secara sederhana dapat diartikan suatu proses yang terjadi pada peserta didik untuk mengolah informasi, memonitornya, dan menyusun strategi berkenaan dengan informasi tersebut dengan inti pendekatannya lebih kepada proses memori dan cara berpikir. Dalam teori pemrosesan informasi, terdapat beberapa model mengajar yang akan mendorong pengembangan pengetahuan dalam diri siswa dalam hal mengendalikan stimulus yaitu mengumpulkan dan mengorganisasikan data, menyadari dan memecahkan masalah, mengembangkan konsep sehingga mampu menggunakan lambang verbal dan non verbal dalam penyampaiannya. Bahkan orientasi utama pada modelnya mengarah kepada kemampuan siswa dalam mengolah, menguasai informasi sehingga dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang akan didapatkannya.
BalasHapusterima kasih
Sedikit menambahkan,Teori pembelajaran pemrosesan informasi adalah bagian dari teori belajar sibernetik. Secara sederhana pengertian belajar menurut teori belajar sibernetik adalah pengolahan informasi. Dalam teori ini, seperti psikologi kognitif, bagi sibernetik mengkaji proses belajar penting dari hasil belajar, namun yang lebih penting dari kajian proses belajar itu sendiri adalah sistem informasi, sistem informasi inilah yang pada akhirnya akan menentukan proses belajar.
BalasHapusPemrosesan informasi itu sendiri secara sederhana dapat diartikan suatu proses yang terjadi pada peserta didik untuk mengolah informasi, memonitornya, dan menyusun strategi berkenaan dengan informasi tersebut dengan inti pendekatannya lebih kepada proses memori dan cara berpikir. Dalam teori pemrosesan informasi, terdapat beberapa model mengajar yang akan mendorong pengembangan pengetahuan dalam diri siswa dalam hal mengendalikan stimulus yaitu mengumpulkan dan mengorganisasikan data, menyadari dan memecahkan masalah, mengembangkan konsep sehingga mampu menggunakan lambang verbal dan non verbal dalam penyampaiannya.
Manusia melakukan pembelajaran aktif dengan memilih informasi masuk yang relevan, mengorganisasikan informasi-informasi itu kedalam refresentasi mental yang koheren, dan memadukan refresentasi mental itu dengan pengetahuan lain.
BalasHapusOleh karena karya sentral multimedia learning berlangsung dalam memori kerja atau working memory. Memori kerja digunakan untuk penyimpanan sementara dan memanipulasi pengetahuan dalam kesadaran pikiran aktif. Teori kognitif tentang multimedia learning dapat digambarkan dalam diagram berikut ini. Gambar 1. Teori kognitif tentang multimedia learning
Bagimana cara kita memamnggil kembali memori jangka panjang yang ada pada otak kita?
BalasHapusdebgan cara , Cara kita mengingat kembali informasi umum memberi kesan bahwa LTM terorganisir. Kita tidak mungkin bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan masa lalu kalau memori kita tidak secara sistematis terorganisir. Penyajian LTM yang fantastis menyatakan bahwa di dalam otak kita, materi-materi yang ada dihubungkan dengan jalan yang menyeruapi suatu jaringan telepon rumit. Perolehan kembali informasi spesifik terjadi dengan memasuki network, yang mana mampu memanggil cerita yang kita inginkan dari tempat penyimpanannya. Jaringan yang berhubungan dan informasi yang saling berasosiasi jauh lebih rumit untuk dideskripsikan.
Hapusassalamu'alaikum wr.wb saya ingin menambahkan materi sedikit tentang postingan materi anda diatas.
BalasHapusDalam mengartikan penyampaian informasi dengan multimedia perlu dibedakan apa yang disebut dengan media pengantar, desain pesan, serta kemampuan sensorik. Media pengantar mengacu pada sistem yang dipakai untuk menyajikan informasi, misalnya media berbasiskan media cetakan atau media berbasiskan komputer. Desain pesan mengacu pada bentuk yang digunakan untuk menyajikan informasi, misalnya pemakaian animasi atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu pada jalur pemrosesan informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang diperoleh, seperti proses penerimaan informasi visual atau auditorial.
Sebagai contoh, suatu paparan tentang bagaimana sistem sesuatu alat bekerja dapat dipresentasikan melalui teks tertulis dalam buku atau melalui teks di layar komputer (dua media yang berbeda), dalam bentuk rangkaian kata-kata atau kombinasi kata-kata dan gambar (dua desain pesan yang berbeda), atau dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan (dua sensorik yang berbeda). Sebenarnya istilah desain pesan mengacu pada proses manipulasi, atau rencana manipulasi dari sebuah pola tanda yang memungkinkan untuk mengkondisi pemerolehan informasi. Penelitian telah menemukan bukti bahwa desain pesan yang berbeda pada multimedia instruksional mempengaruhi kualitas performansi .
Pada teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak. Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.
BalasHapusMenurut teori pemrosesan informasi, pengetahuan yang diproses dan dimaknai dalam memori kerja disimpan dalam memori jangka panjang dalam bentuk skema-skema teratur secara hirarkis. Tahap pemahaman dalam pemrosesan informasi dalam memori kerja berfokus pada bagaimana pengetahuan barudimodifikasi. Pemahaman berkenaan dan dipengaruhi oleh interpretasi terhadap stimulus. Faktor stimulus adalah karakteristik dari elemen-elemen desain pesan seperti ukuran, ilustrasi, teks, animasi, narasi, warna, musik, serta video.
Model belajar pemrosesan informasi ini sering pula disebut model kognitif information processing, karena dalam proses belajar ini tersedia tiga taraf struktural sistem informasi, yaitu:
1) Sensory atau intake register: informasi masuk ke sistem melalui sensory register, tetapi hanya disimpan untuk periode waktu terbatas. Agar tetap dalam sistem, informasi masuk ke working memory yang digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2) Working memory: pengerjaan atau operasi informasi berlangsung di working memory, dan di sini berlangsung berpikir yang sadar. Kelemahan working memory sangat terbatas kapasitas isinya dan memperhatikan sejumlah kecil informasi secara serempak.
3) Long-term memory, yang secara potensial tidak terbatas kapasitas isinya sehingga mampu menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki peserta didik. Kelemahannya adalah betapa sulit mengakses informasi yang tersimpan di dalamnya.